Ketika kaki saya mulai
melangkah dari puncak Gunung Bromo untuk turun ke bawah pada 7 juli 2012 lalu,
saya tahu liburan saya akan berakhir dan saya akan kembali menjalani rutinitas
menjadi mahasiswa. Apa yang saya dan kedua kawan saya lalui pasti akan menjadi
kenangan yang menyenangkan untuk diceritakan.
Saya teringat rumah ketika ketika turun dari pucak Gunung Bromo. Sudah satu minggu saya meninggalkan rumah, pergi
berpindah-pindah, menyambangi tempat-tempat indah. Di mulai dari Jojga bersama
ACID, Pulau sempu, Ranu Pane, dan berakhir di Gunung Bromo. itu semua terasa mengagumkan karena sebelumnya,
perjalanan ini hanya sebuah wacana yang tak tahu akan terjadi atau tidak.
Perjuangan
Saat
itu, kami mulai turun menapaki pasir di badan Gunung Bromo. Sesampainya dibawah, kami segera mengambil
carier yang di titipkan di warung dan memulai perjanan lagi mengarungi
padang pasir kawasan bromo menuju pananjakan agar kami mendapatkan mobil angkutan
untuk pulang.
Perjalanan
itu terasa sangat panjang, seperti sebuah perjuangan. jika dilhat rute dari gunung bromo ke pananjakan, jaraknya tidak terlalu jauh. Namun ketika kami arungi padang pasir itu, rasanya
seperti tak berujung. sebenarnya, Teman saya sudah lelah dan tak ingin tracking lagi tapi karena uang ditangan sudah hampir habis, mau tak mau
kami harus melakukannya. Pak Suyoto yang mengantar kami dengan jeepnya dari Ranu Pane sudah
pergi karena ada urusan. Lagi pula kami hanya membayarnya dengan setengah
harga, tak enak kalau minta diantar pula ke pananjakan.
Memang
perjalanan mengarungi padang pasir terasa membosankan, namun karena keindahan
alamnya, kawasan Bromo Tengger Semeru membuat rasa bosan itu tak semakin akut. Setelah mengarungi padang pasir beberapa saat, kami dihadapkan pada klimaks perjalanan sebelum mendapatkan angkutan bernama taksi. seperti halnya klimaks dalam cerita yang berada di titik puncak, kami juga harus mendaki tebing yang curam dan tinggi untuk sampai titik puncak.
Setelah pendakian
selesai dengan nafas tersenggal dan kaki terasa pegal, kami bertiga
beristirahat di sebuah warung sebelum mencari taksi. Awalnya, kami mengira
angkutan yang bernama Taksi ini bener-bernar taksi seperti umunya, namun setelah
kami melihat langsung ternyata hanya angkutan mini bus. Kami menghela nafas lega karena tak perlu mengeluarkan banyak uang taksi.
Saya kurang tahu kenapa angkutan itu di namakan taksi, mungkin karena mobil itu berwana biru seperti taksi. tapi entah lah. Taksi ini unik. ia belum jalan sampai kursi di dalam mobil penuh. setelah sekitar setengah jam menunggu sambil mencari oleh-oleh, akhirnya kami berangkat menuju Probolinggo.
Saya kurang tahu kenapa angkutan itu di namakan taksi, mungkin karena mobil itu berwana biru seperti taksi. tapi entah lah. Taksi ini unik. ia belum jalan sampai kursi di dalam mobil penuh. setelah sekitar setengah jam menunggu sambil mencari oleh-oleh, akhirnya kami berangkat menuju Probolinggo.
awalnya Kami belum tahu
pasti harus menaiki dari Probolinggo menuju Jakarta biayanya tidak terlalu mahal. Namun saat seorang kawan membeli
oleh-oleh, seorang pedagang merekomendasikan agar kami naik travel karena
harganya lebih murah. Kami pun termakan omongan pedagang itu karena kami sudah terlalu
lelah untuk berfikir.
Sesampainya kami di
probolinggo, kenek taksi itu mencarikan kami travel yang murah. Karena sudah
tanggung, akhirnya kami naik travel menuju jogja dengan harga yang menurut kami
cukup mahal.
Namun ketika mobil itu
ingin jalan, datang beberapa perempuan muda yang berasal dari Negara lain di
hadapan kami. Mereka membawa barang yang cukup banyak. Satu orang membawa dua tas,
satu tas carier dan satu lagi tas ransel.
Ketika meraka memasukan tasnya ke bagasi mobil, kami pun langsung tahu jika perempuan bule itu menaiki mobil yang sama dengan kami. Di dalam mobil, saya duduk bersebalahan dengan perempuan bule itu. Sungguh perempuan bule itu cantik. Saya jadi canggung duduk disamping salah satu darinya.
Ketika meraka memasukan tasnya ke bagasi mobil, kami pun langsung tahu jika perempuan bule itu menaiki mobil yang sama dengan kami. Di dalam mobil, saya duduk bersebalahan dengan perempuan bule itu. Sungguh perempuan bule itu cantik. Saya jadi canggung duduk disamping salah satu darinya.
Mobil travel itu mulai
melaju selepas azan isya. Di perjalanan, tiba-tiba salah satu bule yang duduk dibelakang menegur
saya. “Can you speak Indonesia?”
tanyanya. Tentu saja ujar saya dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Salah satu dari mereka meminta saya
agar
supir menyalakan
AC tapi supir itu menjawab jika ACnya rusak dan menyuruh bule itu untuk membuka
kaca jendela.
“There is no air conditioner but there is natural air conditioner,”
ucap saya waktu itu. Lalu perempuan bule itu meminta saya untuk membukakan
jendalanya karena tak bisa. Setelah pembukaan jendela, kami menjadi akrab dengan mereka. Saat berbincang-bincang, mereka mengatakan jika mereka berasal dari Norway. Setelah dari Probolinggo, mereka akan melanjutkan perjalanan
ke jogja dan meneruskannya ke kuala lumpur.
Mereka pun menayakan
beberapa tempat menarik yang terdapat di Jogjakarta dan kami beri tahu dengan senang hati. Lalu kami berbincang lagi dengan mereka, ternyata hampir semua
dari mereka adalah mahasiswa ekonomi. Sedangkan orang yang bersebelahan dengan
saya adalah seorang auditor. Kebetulan sekali kami bertiga adalah mahasiswa
akuntansi, tepatnya akuntansi menajeman. Lalu kami berbicara tentang kegiatan
kami di kampus.
Setelah itu, saya bertanya
kepada mereka mengapa
mendatangi Indonesia. Mereka menjawab kalau orang Indonesia ramah. Kemudian, perbincangan pun
kami akhiri karena malam semakin larut.saya pun mencoba tertidur. namum perempuan itu menarik perhatian saya sehingga saya pandangi dia. Perempuan di sebelah
saya menggunakan alat tidur agar kepalanya teratur, padahal saya berharap agar
dia bersandar di pundak saya saat tertidur. Tapi apa daya, niat saya tak
disetujui Tuhan. Saya pun bergergas memejamkan mata.
pada hari yang sudah beranjak pagi, tiba-tiba saya terbangun saat mobil berhenti. Saya mengira sudah sampai di Jogja, namun ternyata bule
itu sedang ke toilet di salah satu pom bensin. Ketika saya memandang ke
seseorang bule, saya melihatnya sedang merekok di pompa bensin. Syarif pun melihatnya. Untung saja mobil sudah bersiap jalan sehingga perempuan
itu mematikan rokoknya. Sangat tak lucu jika perjanan ini menjadi buruk karena kelakuan perempuan
bule itu.
Sesampainya di jogja, kami
berpamitan dengan perempuan bule itu dan bersiap menuju Jakarta pada pagi-pagi
buta. "have a great day in jogja," kata saya. Sebenarnya ada yang kurang karena kami tak berfoto bersama mereaka. tapi yasudah lah, saya sudah rindu rumah.
Insiden
Perjalanan kami dari jogja
begitu menyenangkan karena bus yang kami naiki sepi dari penumpang. Sehingga, Kami bebas memilih tempat dimana saja
kami mau. Bahkan 2 tempat sekaligus.
Rasanya bus ini milik beberapa orang saja.
Seehabis isya, saya terasa
begitu lelah dan memutuskan untuk memejamkan mata. Namun dengan tiba-tiba Syarif
membangunkan saya sekitar pukul 20.00. Saat membuka mata, tak ada penumpang lain di bus itu kecuali kami
berdua. Kami pun segera keluar dari mobil dan mencari tahu apa yang baru saja
terjadi.
Ketika turun, saya terpana
melihat apa yang sedang saya alami. Seseorang penumpang lain mengatakan kalau
sebuah truk tangki tak kuat menanjak ketika berada di tanjakan berbelok daerah
Tasikmalaya. Lalu
truk itu mundur dan menabrak Bus. Kemudian, bus menyerempet mobil xenia putih yang
ada disampingnya. Sampai akhirnya semua terkunci. Moncong mobil xenia masuk
kebawah bus, dan bus terapit meocong xenia. Bus sedikit terhalang truk yang menghadap
dinding. Untung saja truk tangki itu berisi oli, apabila truk itu berisi minyak, suram lah
perjalanan kami bertiga.
Tabrakan itu, membuat
jalanan begitu macet. Seseorang polisi dan warga mencoba mengatur jalannya lalu
lintar agar kemacetan tak bertambah parah. Sebuah truk pun diberhentikan untuk
menarik, namun tali penariknya malah putus. Bus itu kembali gagal di tarik.
Kami hanya memandangi apa
yang terjadi dan tak tahu harus bebuat apa. Tas-tas kami masih berada dalam
bagasi mobil dan tak bisa kami ambil. Kemudian sebuah truk besar diberhentikan
lagi tapi menolak. Sampai akhirnya sebuah truk berisi bahan bakar minyak
diberhentikan untuk menarik bus. Aku menjadi resah karena takut truk tangki
minyak itu malah tak kuat dan menabrak bus. Aahh habis lah kita.
Saat beberapa orang
selesai memasang tali pengait, saya semakin menjauh karena takut hal yang buruk menimpa kami. Tapi perkiraan saya
meleset. Truk tangki minyak itu berhasil menarik bus sehingga bus bisa
dipinggirkan.
Meski bus itu selamat, bus
tak bisa jalan karena bus itu bermasalah dengan tali kopling. Akhirnya kami
menurunkan barang-barang kami dari bagasi dan menunggu mobil yang sama.
Beberapa kali mobil dari perusahaan dan
jurusan yang sama melintas, tapi pera penumpang tidak diberi menebeng
karena bus sudah terlalu penuh.
Saya pun menunggu sampai
tertidur. Saya yang tak nyaman tidur di kursi kayu depan sebuah rumah makan, masuk ke dalam bus dan untuk tidur. Hingga pagi
menjelang, tak ada
satu pun mobil yang mau kami tumpangi. Supir bus sampai melempar batu kepada
bus yang menolak di tumpangi.
Akhirnya, ketika hari sudah
pagi, ada mobil yang mau ditumapangi kerana di paksa. Saat
masuk bus, hanya saya yang tidak mendapat tempat duduk, akhirnya saya duduk di
tangga pintu belakang sampai kami tiba dilebak bulus.
Sampai kiar-kira jam 12
siang kami sampai di lebak bulus dan berpisah. Kami bertiga sudah sangat lelah dan ingin
merasakan suasana rumah. Kami ingin pulang dengan membawa cerita
yang tak terlupakan.
22:33
16/11/12










